Minggu, 17 Januari 2010

Apa Kata “Mereka” Tentang Orang BETAWI ? ( Catatan Akhir Tahun Islam Ibukota )

Seperti tahun-tahun yang lalu dan sepanjang tahun 1430H, Jakarta Islamic Centre (JIC) tetap memberikan kontribusi pemikirian melalui kolom ini sebagai respon dan solusi terhadap persoalan-persoalan yang timbul, khususnya di ibukota, demi kemashlahatan ummat.

Insya Allah, jika tidak ada aral melintang, pada peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1431H di Jakarta Islamic Centre, sebagian besar kumpulan kontribusi-kontribusi tersebut yang telah dibukukan dengan judul Islam Ibukota: Dari Kramtung Sampai Brussel akan dilaunching oleh Gubernur DKI Jakarta yang diiringi juga dengan launching website Islam Ibukota.

Jika disimak, kontribusi JIC tersebut kebanyakan bersumber dari kearifan lokal, kearifan ulama Betawi yang telah tiada, baik pribadi maupun khazanahnya. Hal ini bukan tanpa kesengajaan, apalagi bermaksud untuk menonjolkan satu etnis atas etnis lainnya di tengah masyarakat Jakarta yang sangat majemuk. Sengaja hal ini dilakukan, karena dari berkali-kali forum diskusi terbatas tentang etnis Betawi yang digelar JIC dengan melibatkan para pakar dan ulama, hanya satu kesimpulannya: etnis Betawi sedang dalam ancaman serius. Ancaman ini terdiri atas tiga hal, yaitu: pertama, ancaman tersingkir dari tanah kelahirannya, kedua, ancaman kehilangan identitas ke-Islamannya, dan ketiga, ancaman pemurtadan orang Betawi karena keberhasilan gerakan non-muslim dalam melakukan rekacipta kebudayaan Betawi.

Untuk ancaman pertama, secara faktual memang telah dan sedang terjadi. Untuk ancaman kedua, hampir terjadi. Sedangkan ancaman ketiga, siapapun akan membantahnya,”Mana ada orang Betawi murtad?” Namun, adakah bantahan itu akan terjadi jika kita menyimak yang mereka katakan dan perbuat terhadap etnis ini di salah satu media misinya. Berikut kutipannya “Jakarta adalah ibukota negara Indonesia, juga sebagai pusat politik dan ekonomi nasional. Tujuh puluh lima persen dari ekonomi Indonesia berputar di sekitar daerah ini. Hampir semua kelompok etnis (suku) yang berada di Indonesia dapat dijumpai di kota Jakarta, termasuk 127 suku yang paling besar yang masih terabaikan dari berita Injil. Suku Betawi, dengan (populasi 500.000) jiwa dianggap sebagai penduduk asli kota Jakarta. Awalnya sejak abad ke-15 berbagai suku bangsa baik dari Indonesia maupun negara lain termasuk Portugis telah datang dan tinggal di Batavia (nama dulu). Suku asli betawi umumnya dapat dijumpai di pingggiran kota, seperti di daerah pasar Minggu di Jakarta Selatan, Condet di Jakarta Timur, dan Bekasi. Mereka menggunakan bahasa Melayu dengan logat betawi. Meskipun umumnya mereka beragama Islam, mereka masih sangat terikat pada kuasa kegelapan. Mereka percaya pada roh-roh jahat yang mendiami pohon-pohon, jembatan, kuburan (mereka juga masih menyembah arwah nenek moyang). Sekitar 100 orang Betawi telah menjadi pengikut Isa Almasih, dan beberapa di antaranya aktif memberitakan Injil di kalangan mereka sendiri.

Umumnya orang Betawi menjalani kehidupan keseharian mereka menurut ajaran agama Islam. Mereka memiliki kegiatan budayanya sendiri, termasuk kelompok teater (lenong), parade boneka raksasa (ondel-ondel), musik tradisional (tanjidor), topeng Betawi dan teater boneka (wayang golek). Mereka juga memiliki busana yang khas, ketika menghadiri pesta pernikahan dan acara khusus lainnya. Dua lembaga Betawi (non-muslim) sedang bekerja keras untuk mengembangkan identitas dan budaya Betawi di tengah pembauran masyarakat dan budaya yang menakjubkan di kota Jakarta. Alkitab dalam dialek Betawi sedang dikerjakan (sekarang sudah selesai dan tersebar), belum ada film Yesus atau radio rohani dalam dialek Betawi, tetapi orang Betawi semuanya dapat berbahasa Indonesia, yang adalah bahasa nasional, mereka menggunakannya sejak dari Sekolah Dasar. Telah banyak sumber yang tersedia dalam bahasa Indonesia, baik Alkitab, kaset, CD, Film dan buku-buku rohani.

Demikian mereka memandang dan memperlakukan orang Betawi selama ini. Tidak usah diperdebatkan mengenai kebenaran angka seratus orang Betawi yang telah murtad. Tidak usah kita marah-marah, apalagi bertindak kasar dan anarkis atas apa yang telah mereka katakan dan perbuat terhadap etnis ini. Yang harus dilakukan adalah berbuat dengan cara apapun, berbuat agar etnis Betawi tetap dikenal sebagai etnisnya kaum muslimin, etnis yang mendiami tanah tempat berdirinya ribuan masjid dan surau, etnis yang selalu mengilhami siapapun untuk selalu berbuat baik dan memberikan kemashlahatan.***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki (Staf Seksi Pengkajian Jakarta Islamic Centre)

Sumber :
http://www.islamic-center.or.id/component/content/article/31-kajian/1471-apa-kata-mereka-tentang-orang-betawi---catatan-akhir-tahun-islam-ibukota-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar